Oleh : Muhammad Hafiz Antassalam
Dalam organisasi mahasiswa, regenerasi kepemimpinan tidak pernah berlangsung di ruang hampa. Ia selalu bersinggungan dengan realitas sosial, politik dan budaya yang lebih luas. Sebagaimana terlihat dalam Tanwir XXXIII DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tahun 2025 yang menghadirkan tokoh negara serta mengangkat isu Green Democracy.
Kehadiran elite politik dalam forum strategis IMM menunjukkan bahwa organisasi kader ini tidak hanya menjadi ruang pembinaan internal, tetapi juga menjadi ruang tarik-menarik kepentingan. Namun, di sinilah pertanyaan paling mendasar muncul. Sejauh mana ketertiban politik eksternal memperkuat dan bukan justru mengaburkan arah kepemimpinan IMM?
IMM sebagai salah satu organisasi otonom Muhammadiyah, memiliki mandat ideologis serta tujuan yang jelas dengan organisasi induknya. Membentuk kader yang religious, intelektual dan humanis. Namun dalam praktiknya, faktor eksternal terutama politik sering kali mempengaruhi dinamika kepemimpinan.
Narasi Green Democracy yang dibawakan oleh Ketua DPD RI dalam Forum Tanwir IMM menunjukkan adanya intensitas relasi antara IMM dengan aktor politik nasional. Di satu sisi, hal ini menjadi peluang membuka ruang pembelajaran politik yang beretika bagi kader. Dan di sisi lain, terdapat resiko normalisasi politik praktis didalam ruang kaderisasi.
Masalah ini muncul ketika kepemimpinan organisasi lebih sibuk mengelola relasi simbolik dengan kekuasaan daripada memperkuat kualitas ideologis dan intelektual kader di akar rumput. Bukan tidak mungkin politik eksternal berpotensi menggeser orientasi kepemimpinan dari value-based leadership menjadi image-based leadership.
Kemudian kepemimpinan diukur dari akses seberapa dekat dengan panggung bukan lagi dari segi kapasitas dalam kaderisasi serta keteladanan moral.
Faktor sosial dan budaya juga turut menjadi tekanan. Di tengah adanya krisis lingkungan, ekonomi yang timpang serta budaya pragmatis, IMM dituntut tampil responsive terhadap isu-isu publik. Namun respon ini harus dibingkai sebagai gerakan moral dan intelektual, bukan sekadar resonansi terhadap isu yang sedang populer saja. Justru keterlibatan eksternal dapat melahirkan kader-kader yang aktif secara structural, tetapi lemah secara substansial bilamana tidak dibekali pondasi ideologis yang kuat.
Forum-forum nasional seperti Tanwir seharusnya menjadi momentum evaluasi arah kepemimpinan IMM, bukan hanya sekadar agenda seremonial. Regenerasi kepemimpinan yang sehat itu tidak selalu menolak dialog dengan politik, tetapi dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya dan secara proporsional.
Dalam setiap relasi eksternal IMM harus memastikan bahwa tetap berpijak pada nilai dasar organisasi dan tujuan jangka panjang kaderisasi. IMM berpeluang memiliki resiko pemimpin yang fasih tampil berbicara di panggung publik, namun gagap dalam membina kader.
Hari ini disinilah tantangan terbesar kepemimpinan IMM saat ini, yakni menjaga jarak kritis dengan kekuasaan tetapi tanpa kehilangan untuk berani bersuara. Regenerasi kepemimpinan yang berkualitas hanya mungkin lahir dari organisasi yang konsisten merawat nilai, bukan hanya sekadar momentum.***











