membaranews.com.(Medan)
Wali Kota Medan Bobby Nasution terus mempercepat penurunan angka stunting. Buktinya , tahun 2022, Pemko menyusun 15 program, 16 kegiatan, 29 subkegiatan untuk intervensi penurunan stunting terintegrasi dilaksanakan 10 OPD dan 30 Kelurahan dengan total anggaran Rp 198.102.286.201, termasuk dana kelurahan Rp 1.905.246.381.
Ada 550 balita penderita stunting terdapat di 20 kecamatan telah ditetapkan anggarannya.
Wali Kota Bobby mengkolaborasikan OPD dan Kelurahan, Total Pagu Anggaran Intervensi Penurunan Stunting Terintegrasi mencapai Rp 198,1 M.
Kepala Bappeda Benny Iskandar dalam kegiatan Rembuk Stunting 2022 di Hotel Grand Mercure, Selasa (31/5/2022) mengatakan, sebelum menyusun program Pemko Medan telah melakukan analisis situasi. Per Februari 2022, terdapat 550 balita stunting di 20 kecamatan dan Kecamatan Medan Baru bebas stunting.
“Kecamatan dengan jumlah balita stunting tertinggi Medan Belawan, Kelurahan Belawan Pulau Sicanang,” sebut Benny.
Pemko mengidentifikasi kendala dan rekomendasi terkait 29 cakupan layanan essensial dan 35 cakupan layanan supply dengan sasaran meliputi remaja, calon pengantin/pasangan usia subur, ibu hamil, anak usia balita,keluarga beresiko stunting.Ada empat kategori yakni beberapa cakupan layanan sudah memadai, hampir memadai, rendah, sangat rendah.
Benny mengungkapkan kendala pencapaian cakupan layanan, antara lain data belum akurat dan memadai, belum ada program atau kegiatan mendukung pencapaian cakupan layanan karena indikator cakupan layanan yang baru di tahun 2022. Seperti remaja putri menerima pemeriksaan status anemia, calon pengantin konsumsi tablet tambah darah, pasangan usia subur menerima bantuan tunai bersyarat.
Saat ini disusun rencana program, kegiatan, sub kegiatan intervensi penurunan stunting terintegrasi. Tahun 2022 terdiri 15 program, 16 kegiatan, 29 sub kegiatan dilaksanakan 10 OPD dan 30 kelurahan. Total pagu Rp. 198.10,M lebih. Termasuk dana kelurahan Rp. 1.90 M lebih,sebut Benny.
Tahun 2022 terdapat 63 kelurahan menjadi lokasi fokus intervensi penurunan stunting. Ada dua intervensi prioritas yakni Intervensi Gizi Spesifik untuk mengatasi penyebab langsung terjadinya stunting dan Intervensi Gizi Sensitif guna mengatasi penyebab tidak langsung terjadinya stunting. Sedangkan sasaran sasaran prioritas adalah ibu hamil, Pasangan Usia Subur (PUS)/calon pengantin, balita (0-59 Bulan) dan remaja.
Benny menjelaskan, anggaran Rp. 14.878.011.827 untuk penanganan 550 balita stunting di 20 kecamatan terdiri atas Intervensi Gizi Spesifik sebesar Rp. 2.678.011.827 dan Intervensi Gizi Sensitif Rp. 12.200.000.000.
Intervensi Gizi Spesifik meliputi kegiatan pemberian makanan tambahan bagi bayi gizi buruk/gizi kurang, pelaksanaan pos gizi melalui anggaran dana kelurahan, pelaksanaan komunikasi, informasi, edukasi terkati pencegahan stunting, ASI eksklusif, pemberian MP-ASI, Germas, Tata Laksana Gizi Buruk, pemantauan dan promosi pertumbuhan, Gerakan Gemar Makan Ikan. Sedangkan Intervensi Gizi Sensitif meliputi kegiatan peningkatan penyediaan air minum yang aman dan peningkatan penyediaan sanitasi layak.(Rul)











